Diskusi Publik Hari Guru: “Saya Bangga menjadi Pendidik!”

Bandung. Diskusi Publik Hari Guru di gedung FPMIPA-C Prodi Ilmu Komputer, Sabtu (1/12). Sesuai dengan nama kegiatan, diskusi publik ini diadakan dalam rangka  memperingati hari guru yang jatuh pada Minggu (25/11) lalu. Sebagai satu-satunya universitas dengan title pendidikan di Indonesia ini, UPI memiliki potensi yang amat besar untuk mencetak penggerak-penggerak pendidikan. Membaca potensi ini, Kementrian Pendidikan BEM REMA UPI 2012 berinisiatif memfasilitasi calon-calon penggerak pendidikan tersebut untuk lebih mengetahui bagaimana ranah pendidikan dan gerak pendidik seharusnya.

Pemateri yang dihadirkan merupakan para pejuang pendidikan di Indonesia. Menyampaikan bagaimana seharusnya menjadi pendidik. Bahwa pendidik bukanlah profesi sempalan yang semua orang bisa melakukannya. Ada pelbagai teknik dalam menyampaikan pelajaran di dalam kelas. Bukan hanya sebatas menggunakan metode ceramah dan membuat catatan yang belum tentu siswa baca dan pelajari ulang di rumahnya. Seperti mendekati siswa sesuai dengan karakteristiknya. Cara mengajar siswa audio akan jelas berbeda dengan cara mengajar siswa kinestetik. Hal semacam inilah yang sering guru atau pendidik lupakan dan bahkan abaikan. Bahwa tidak semua siswa dapat menerima materi dengan cara yang sama. Hal ini disampaikan oleh Rian, seorang pendidik di salah satu SMA di Bandung.

Pematerian kedua disampaikan oleh Nur peserta SM3T angkatan pertama yang membagikan pengalamannya mengajar di tempat yang jauh dari kota. Beliau menjelaskan bahwa bobroknya pendidikanpun masuk ke pelosok negeri. Seperti halnya kecurangan dalam ujian nasional yang menjadi faktor utama kelulusan pada saat itu, dan lain-lain. Bobroknya pendidikan seperti yang sekarang terjadi di banyak daerah di Indonesia, ternyata diobati oleh pejuang pendidikan yang mendirikan SMA Juara. Di SMA tersebut sangat menekankan pendidikan moral daripada kelulusan. Pemikiran semacam ini sudah ditanamkan sejak dini oleh pihak sekolah, bahkan guru-guru di sana memiliki prinsip lebih baik melihat siswanya tidak lulus daripada melihat moral siswanya rusak hanya karena kecurangan, terutama di ranah pendidikan. Selain itu, di SMA Juara tidak ada penjaga kantin sekolah. Semua kantin di sekolah merupakan kantin kejujuran. Dan para siswa memiliki tanggungjawab untuk jujur ketika membeli makanan di sana. Sebelum aktivitas sekolah dimulai, di SMA Juarapun memiliki kebiasaan sholat dhuha bersama. Ini hanyalah sebagian kecil dari contoh pihak-pihak yang peduli dengan pendidikan di Indonesia dan ingin mengubahnya. Bukan mengubah dengan mulut tetapi tindakan nyata yang dapat membuktikan pada khalayak ramai bahwa pendidikan formal yang mengutamakan pendidikan moral itu sangat bisa diwujudkan.

Motivasi terkahir yang disampaikan Yudi, Wakil Kepala Sekolah SMA Juara dalam acara ini adalah salah satu hadist Nabi Muhammad SAW, “Penghuni surga salah satunya diisi oleh orang yang memberikan ilmu dan tidak mengahrapkan dunia sebagai balasannya”. Menyampaikan bahwa para pendidik memiliki lahan tersendiri untuk masuk ke dalam surga yang dijanjikan Tuhan. Selain itu, Nur menyatakan bangga menjadi seorang pendidik. Hal ini disampaikan di akhir perjumpaan dalam acara ini, “Saya bangga menjadi pendidik!” ujarnya.

Diskusi publik ini dapat menjadi inspirasi untuk benih-benih pendidik yang bercita-cita memperbaiki pendidikan bangsa Indonesia. Karena tidak ada kata terlambat untuk berubah, visi pendidikan di Indonesiapun tidak pernah terlambat untuk diperbaiki. Mari sama-sama berjuang untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik! (NA)

Pin It

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>